Archive for 7 Oktober 2009


Minggu pagi tanggal 26 Desember, pada penghujung tahun lalu, hanya dalam hitungan jam, lebih dari 100,000 jiwa melayang. Bencana ini memang tidak dapat dipandang lagi sebagai sekedar bencana nasional bagi beberapa negara. Ini adalah tragedi kemanusiaan internasional. Tsunami yang menjadi salah satu ekses gempa ini menyapu ribuan kilometer pantai di sekitar lautan Hindia. Bahkan tercatat ada korban hingga di Timur Afrika.

Gempa yang terjadi pada daerah subduksi (penunjaman) sepanjang 1200 km ini memang dasyat. Tercatat skala magnitudo gempa adalah 9.0; artinya, gempa ini setara dengan energi yang dikeluarkan dari ledakan 32 milyar TNT! Rekor terakhir gempa sebesar ini adalah gempa di Chili tahun 1960.

Gempa yang terjadi pada pada daerah subduksi antara Lempeng Hindia (Indian Plate) dan Lempeng Mikro Burma (Burma Microplate) ini membuat Indonesia harus memetakan kembali wilayahnya. Ken Hudnut, staf ahli US Geological Survey mengatakan bahwa gempa diperkirakan telah menggeser pulau-pulau kecil sejauh 20 meter. Sementara wilayah barat laut Sumatera bergeser 36 meter ke barat daya. Menurut Bill McGuire, geofisis dari University College London, UK,  slip yang menyebabkan keruntuhan sebesar 15 meter ini membuat pulau-pulau di kepulauan Andaman dan Nicobar naik; sementara itu, tinggi permukaan laut di kota Banda Aceh naik. Hal serupa juga diungkapkan oleh Stuart Sipkin, geofisis dari USGS National Earthquake Information centre. Secara lebih detail, Sipkin mengatakan bahwa perubahan permukaan Bumi yang terjadi cenderung vertikal. Gempa ini menyebabkan lempeng Hindia melasuk lebih dalam ke bawah lempeng Burma sehingga menyebabkan “uplift”.

Minggu pagi tanggal 26 Desember 2004 ini Bumi benar-benar bergetar. Bumi dapat dianalogikan sebagai sebuah gasing  yang berputar. Sebuah sentuhan tangan (vektor gaya dari luar gasing) dapat membuat gasing itu berputar tidak stabil. Hal inilah yang terjadi hari Minggu kelam itu. Bedanya, vektor gaya yang menyebabkan Bumi bergetar tidak stabil adalah dari dalam, yaitu dari tenaga endogen Bumi, tepatnya gempa. Ilmuwan NASA memperkirakan bahwa kemiringan Bumi kini bertambah 2,5 cm akibat gempa ini. Selain itu, periode rotasi Bumi berkurang sekitar tiga mikrosekon akibat gempa ini.

Iklan

Jumlah korban tewas akibat gempa di Sumatra Barat (Sumbar) yang telah ditemukan hingga Senin malam pukul 23:00 WIB bertambah menjadi 625 orang dari sebelumnya 612 orang.

Berikut data jumlah korban dan kerugian akibat gempa Sumbar yang telah terdata Sarkorlak Penanggulangan Bencana Sumbar : 1. Korban tewas : 625 orang 2. Korban luka berat : 744 orang 3. Korban luka ringan : 1.343 orang 4. Warga hilang : 295 orang 5. Rumah rusak berat : 101.653 unit 6. Rumah rusak sedang : 48.966 unit 7. Rumah rusak ringan : 49.029 unit Korban tewas yang telah terdata dengan rincian ; 1. Kota Padang : 248 korban tewas 2. Kabupaten Padang Pariaman : 292 korban tewas 3. Kota Pariaman : 37 korban tewas 4. Kabupaten Pesisir Selatan : 10 korban tewas 5. Kota Solok : 3 korban tewas 6. Kabupaten Agam : 32 korban tewas 7. Kabupaten Pasaman Barat : 3 korban tewas.

1.  Local Area Network (LAN)
Jarak jangkauannya sampai 10 km.
Biasanya merupakan jaringan komputer untuk satu kantor yang
digunakan untuk koordinasi antar bagiannya yang bersifat lokal.2.  Metropolitan Area Network (MAN)
Jarak jangkauannya antara 10 – 50 km.
Biasanya merupakan jaringan komputer antar perusahaan
ataupun antar pabrik dalam satu wilayah kota.
3.  Wide Area Network (WAN)
Jarak jangkauannya lebih dari 50 km.
Jaringan ini memiliki jangkauan  yang sangat jauh, sehingga
dapat mencapai seluruh bagian dunia.
Baca lebih lanjut