SBY-Boediono-Pasangan-UnikAkhirnya SBY telah memiliih pasangannya dalam pemilihan Capers dan Cawapres pada bulan Juli besok. SBY memlih boediono untuk mendapinginya dalam pemilihan capres dan cawapress. Dipilihnya Boediyono oleh SBY, memberikan harapan baru bagi upaya mencerahkan permasalahan yang dihadapi Indonesia yakni ekonomi dan kemiskinan. “Apa yang dilakukan SBY dengan memilih Boediono, tampaknya sebagai upaya untuk mewujudkan harapan masyarakat di periode kedua kepemimpinannya sehingga harus ‘all out’,”.

Sementara itu pengamat politik UGM Dr Abdul Gaffar Karim mengungkapkan, SBY–Budiono harus bekerja ekstra keras untuk menghadapi munculnya resistensi secara terbuka dari partai pendukung koalisi yang dibangun oleh Demokrat. Kerja keras juga harus dilakukan terutama untuk meraih simpati para pemilih dari luar Jawa yang seolah tidak merepresentasikan Jawa-luar Jawa. “Tingkat elektabilitas pasangan SBY-Budiono masih membutuhkan mesin politik dari partai-partai pendukung,” tutur Abdul Gaffar Karim.

Namun SBY masih ada banyak masalah lagi, contohnya saja banyank masyarakat yang tidak sepihak atas pendapat SBY karena telah memilih Boediono untuk menjadi Cawapres nya, masyarakat menganggap boediono  dari kalangan neoliberalisme.

Mengenai kritik keras duet SBY-Boediono sebagai figur yang mengusung neoliberalisme, menurut Gaffar, tak banyak memiliki pengaruh signifikan. Para pengkritik umumnya hanya sebatas wacana dan tidak memberikan alternatif sistem ekonomi yang lebih baik.
Kritikan terhadap pemerintahan yang menjalankan ekonomi neoliberalisme hingga kini tak memiliki daya tusuk yang kuat. Selalu kritiknya berhenti pada spanduk dan tidak menawarkan pilihan lain. “Belum ada argumentasi cerdas, liberalisme itu buruk. Apa sih pilihan di luar neo liberalisme? Pilihan ekonomi Islam misalnya, hingga kini masih jadi perdebatan,”.

Iklan