Jakarta – Sepekan kampanye terbuka berlangsung, para calon presiden (capres) unjuk gigi. Sayangnya, bukan program jelas beserta solusi yang ditawarkan. Justru rakyat disuguhi pernyataan saling lempar kesalahan.

“Mereka tidak berdebat tentang isu terbaik, tapi saling menyalahkan. Kompetisi kampanye kurang dewasa,” ujar pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Arbi Sanit kepada detikcom, Senin 23 Maret malam.Seperti diketahui, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri kembali mengungkit kebijakan BLT pemerintah yang dianggap melatih warga untuk menjadi pengemis. Capres dari Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun menanggapi tuduhan ini dengan santai.

Sementara Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla (JK) banyak mengobral janji soal pengentasan kemiskinan dan pengangguran jika kelak dia jadi presiden. JK kembali menegaskan, dirinya lebih cepat dan lebih baik dalam mengambil keputusan dibanding bosnya, SBY.
“Kalau Mega mengkritik BLT, seharusnya Mega maunya apa? Misalkan harus diganti dengan jaminan sosial atau meningkatkan BLT 100 kali lipat. BLT memang menghina rakyat, tapi apa dong, gantinya yang lebih baik yang ditawarkan Mega,” tanya pria yang suka bicara ceplas ceplos ini.

Arbi Sanit juga mengkritik partai-partai baru yang terkesan banyak mengobral janji, padahal sama sekali belum punya pengalaman. “Bagaimana mereka (partai baru) melaksanakan janji. Pemilihnya saja masih nol, pengalaman dalam demokrasi tidak ada. Bagaimana akan terwujud janjinya? SBY-JK saja yang sudah berpengalaman masih ditanyakan orang,” ketus Arbi.

Arbi berpesan kepada parpol serta para caleg atau pun capres, jika berkampanye hendaklah memperbaiki sistem pemerintahan yang ada, bukannya hanya memberi janji manis belaka. “Apa pun janjinya kalau sistemnya tidak diubah, akan terus jadi janji kosong,” pungkasnya.

Iklan