Minggu pagi tanggal 26 Desember, pada penghujung tahun lalu, hanya dalam hitungan jam, lebih dari 100,000 jiwa melayang. Bencana ini memang tidak dapat dipandang lagi sebagai sekedar bencana nasional bagi beberapa negara. Ini adalah tragedi kemanusiaan internasional. Tsunami yang menjadi salah satu ekses gempa ini menyapu ribuan kilometer pantai di sekitar lautan Hindia. Bahkan tercatat ada korban hingga di Timur Afrika.
Gempa yang terjadi pada daerah subduksi (penunjaman) sepanjang 1200 km ini memang dasyat. Tercatat skala magnitudo gempa adalah 9.0; artinya, gempa ini setara dengan energi yang dikeluarkan dari ledakan 32 milyar TNT! Rekor terakhir gempa sebesar ini adalah gempa di Chili tahun 1960.
Gempa yang terjadi pada pada daerah subduksi antara Lempeng Hindia (Indian Plate) dan Lempeng Mikro Burma (Burma Microplate) ini membuat Indonesia harus memetakan kembali wilayahnya. Ken Hudnut, staf ahli US Geological Survey mengatakan bahwa gempa diperkirakan telah menggeser pulau-pulau kecil sejauh 20 meter. Sementara wilayah barat laut Sumatera bergeser 36 meter ke barat daya. Menurut Bill McGuire, geofisis dari University College London, UK, slip yang menyebabkan keruntuhan sebesar 15 meter ini membuat pulau-pulau di kepulauan Andaman dan Nicobar naik; sementara itu, tinggi permukaan laut di kota Banda Aceh naik. Hal serupa juga diungkapkan oleh Stuart Sipkin, geofisis dari USGS National Earthquake Information centre. Secara lebih detail, Sipkin mengatakan bahwa perubahan permukaan Bumi yang terjadi cenderung vertikal. Gempa ini menyebabkan lempeng Hindia melasuk lebih dalam ke bawah lempeng Burma sehingga menyebabkan “uplift”.
Minggu pagi tanggal 26 Desember 2004 ini Bumi benar-benar bergetar. Bumi dapat dianalogikan sebagai sebuah gasing yang berputar. Sebuah sentuhan tangan (vektor gaya dari luar gasing) dapat membuat gasing itu berputar tidak stabil. Hal inilah yang terjadi hari Minggu kelam itu. Bedanya, vektor gaya yang menyebabkan Bumi bergetar tidak stabil adalah dari dalam, yaitu dari tenaga endogen Bumi, tepatnya gempa. Ilmuwan NASA memperkirakan bahwa kemiringan Bumi kini bertambah 2,5 cm akibat gempa ini. Selain itu, periode rotasi Bumi berkurang sekitar tiga mikrosekon akibat gempa ini.
Genderang perang Pemilihan Presiden 2009 mulai ditabuh. Beberapa massa pendukung masing-masing pasangan capres mulai beraksi mendukung jagoannya.
Hari ini,hari yang berssejarah bagi bangsa indonesia yaitu hari kebangkitan Nasional yang jatuh pada tanggal 20 Mei 2009, kita memperingati yang ke-101 Kementerian Negara Pemberdayaan perempuan RI, ikut memperingati 100 Tahun Hari Kebangkitan Nasional dalam bentuk Peringatan Satu Abad Kebangkitan Perempuan Indonesia untuk merefleksikan apa yang telah diperbuat perempuan Indonesia dalam kurun waktu seratus tahun agar menjadi inspirasi dan motivasi bagi perjalanan bangsa Indonesia terutama kaum muda ke masa depan.
Mengenai hebohnya virus flu babi yang sangat berbahaya dan akhir-akhir ini meresahkan warga Mexico dan America, ternyata Menteri Kesehatan (Menkes)Republik Indonesia, Siti Fadilah Supari menyatakan bahwa virus flu burung (H5N1) jauh lebih berbahaya dari virus flu babi (H1N1) terutama untuk wilayah tropis seperti Indonesia. Hal ini diprediksi bahwa virus H1N1 tidak akan mampu hidup di daerah tropis karena biasanya virus ini hidup di daerah empat musim seprti di America dan sekitarnya.






